Press ESC to close

Rekomendasi ICMJE tentang AI: Panduan bagi Penulis dan Peer Reviewer 

Kecuali Anda benar-benar tidak mengikuti perkembangan beberapa tahun terakhir, Anda pasti menyadari bahwa kecerdasan buatan generatif (generative AI), termasuk large language models (LLM) seperti ChatGPT, kini digunakan secara luas di dunia akademik. Alat-alat ini berpotensi mempermudah, mempercepat, dan menyederhanakan berbagai aspek penelitian, mulai dari merekrut partisipan (Lu et al., 2024) hingga menyusun artikel jurnal final. 

Namun, secara relatif, teknologi AI generatif masih berada pada tahap awal perkembangannya, dan masih banyak hal yang belum kita ketahui tentang sejauh mana teknologi ini dapat diandalkan dengan aman. Oleh karena itu, di tengah antusiasme akademisi terhadap teknologi baru, jurnal dan penerbit terlibat dalam perdebatan intens mengenai batas penggunaan AI yang diperbolehkan serta bagaimana melindungi komunitas ilmiah dan masyarakat umum dari penggunaan AI yang tidak kompeten atau bahkan berbahaya. 

Di antara berbagai lembaga dalam dunia publikasi ilmiah, International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE) memiliki peran penting dalam etika publikasi. ICMJE terdiri dari sekelompok editor jurnal kedokteran umum dan perwakilan organisasi terkait yang bekerja sama untuk meningkatkan kualitas ilmu kedokteran dan pelaporannya. Pedoman ICMJE, yang secara resmi dikenal sebagai Recommendations for the Conduct, Reporting, Editing and Publication of Scholarly Work in Medical Journals, diikuti oleh banyak jurnal medis, mulai dari jurnal terkemuka hingga jurnal spesialis yang lebih baru. 

Tidak mengherankan jika ICMJE termasuk yang terdepan dalam menyusun pedoman dan prinsip terkait penggunaan AI dalam pelaksanaan dan pelaporan penelitian. Berikut adalah rekomendasi utama dari ICMJE terkait hal tersebut: 

1. Penggunaan AI Harus Diungkapkan 

Dalam pembaruan pedoman ICMJE tahun 2023, penulis diwajibkan mengungkapkan penggunaan AI dalam cover letter, bagian ucapan terima kasih (acknowledgements), atau bagian metode (methods), sesuai dengan konteksnya. 

Secara lebih rinci: 

  • Penggunaan AI untuk penulisan, penyuntingan, atau pemeriksaan bahasa harus dijelaskan di bagian acknowledgements
  • Penggunaan AI untuk pengumpulan dan analisis data atau pembuatan gambar harus dilaporkan di bagian methods

Pada dasarnya, ICMJE tidak melarang penggunaan teknologi AI, tetapi mewajibkan pelaporan yang lengkap dan transparan mengenai bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam penelitian dan penyusunan manuskrip. 

2. AI Bukanlah Penulis 

Menurut kriteria ICMJE, salah satu syarat utama kepenulisan adalah bertanggung jawab atas keakuratan, integritas, dan orisinalitas isi artikel. AI tidak dapat memenuhi kriteria ini. 

Karena itu, tidak ada alat AI—termasuk ChatGPT—yang dapat dicantumkan sebagai penulis, meskipun digunakan secara luas dalam penelitian atau penulisan artikel. 

ICMJE juga mengingatkan bahwa keluaran yang dihasilkan AI dapat bersifat keliru, tidak lengkap, atau bias. Penulis diwajibkan untuk meninjau secara cermat seluruh konten yang dihasilkan AI, bahkan jika terlihat meyakinkan atau otoritatif. Selain itu, teks atau gambar yang dihasilkan AI juga perlu diperiksa untuk memastikan tidak terjadi plagiarisme. 

Sejalan dengan itu, alat AI tidak boleh dicantumkan dalam daftar pustaka sebagai sumber referensi, karena AI tidak dianggap sebagai sumber informasi ilmiah yang otoritatif. 

3. Penggunaan AI dalam Evaluasi Manuskrip Harus Sangat Hati-Hati 

Dalam pembaruan pedoman ICMJE Januari 2024 disebutkan bahwa “Editors should be aware that using AI technology in the processing of manuscripts may violate confidentiality.” 

Artinya, penggunaan AI dalam proses penelaahan naskah berpotensi melanggar kerahasiaan. Oleh karena itu, peer reviewer yang ingin menggunakan alat AI untuk membantu proses review harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari editor jurnal. Mengunggah keseluruhan manuskrip ke platform atau perangkat lunak AI yang tidak sah dapat dianggap sebagai pelanggaran kerahasiaan. 

Selain itu, sebagaimana penulis harus berhati-hati terhadap akurasi dan objektivitas konten AI, reviewer juga perlu menyadari bahwa komentar review yang dihasilkan AI dapat bersifat tidak akurat, keliru, atau bias. 

Kesimpulan 

Teknologi AI dapat sangat membantu dalam proses ilmiah, tetapi bukan tanpa risiko. Ketika sebuah jurnal pernah memublikasikan gambar tikus hasil generasi AI dengan anatomi yang tidak masuk akal, hal tersebut memicu ejekan dari ilmuwan maupun masyarakat umum. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan AI tanpa kehati-hatian dapat merusak kredibilitas ilmiah. 

Para peer reviewer pun semakin menyadari risiko penggunaan AI tanpa batas. Survei global terbaru dari Times Higher Education menunjukkan bahwa banyak reviewer masih memiliki tingkat ketidakpercayaan yang tinggi terhadap ChatGPT dan alat serupa. Bahkan sejak Juni 2023, US NIH telah melarang penggunaan AI generatif dalam proses peer review. 

Baik Anda menggunakan AI untuk menyusun manuskrip sendiri maupun untuk menelaah karya orang lain, penting untuk diingat bahwa tidak ada alat yang dapat menggantikan pengetahuan, pengalaman, dan keahlian Anda sebagai peneliti.